Squash dan Tenis, Apa Bedanya?


Kalau Team Gelora buka website #GeloraIndonesia tentu ada pilihan jenis olahraga “squash”. Nah, udah pernah nyoba belum permainan satu ini?

Dilihat dari perlengkapan maupun gaya permainannya, sepintas squash mirip dengan tenis, sama-sama menggunakan alat pemukul berupa raket tenis. Bisa jadi kedua olahraga ini mirip karena sama-sama berasal dari Inggris. Bedanya, tenis dimainkan pada lapangan outdoor dan luas, sementara squash di lapangan indoor dan lebih kecil. Perbedaan lapangan inilah yang kemudian juga membedakan teknik dan aturan permainan. Secara kasat mata, pemain squash tidak berhadap-hadapan. Dengan lapangan yang berukuran 9,75 m x 6,4 m biasanya berada dalam gym, fitness center, atau stadion.

Dalam bermain squash, persiapan pertama tentunya menyiapkan perlengkapan yaitu bola, raket, dan sepatu. Bambang G.S., pelatih nasional squash Indonesia, menjelaskan ada empat macam bola yang dibedakan dengan titik berwarna: kuning, putih, merah, dan biru sesuai kecepatan pantulannya. Titik kuning artinya memiliki pantulan lambat, putih : agak lambat, merah : agak cepat, dan biru : cepat. Ciri khas bola squash adalah semakin dipukul ia akan makin panas sehingga pantulannya pun makin cepat. Ini karena bola squash terbuat dari karet. Di negara empat musim, bola bertitik kuning cocok bagi atlet profesional atau pemain mahir sedangkan bola bertitik biru bagi pemain pemula. Tetapi menurut Bambang, karena suhu di Indonesia cukup panas, pemula pun bisa menggunakan bola bertitik kuning. Sebentar saja digunakan, bola akan memantul cepat.

Raket squash biasanya terbuat dari graphite, titanium, atau campuran keduanya. Tiap raket memiliki berat, keseimbangan, dan kekuatan menahan getaran yang bervariasi. Pilihan yang tepat sifatnya personal. Biasanya pemain pemula akan memilih raket yang ringan. Namun, menurut Bambang, ini justru kurang tepat. Untuk menguasai raket yang ringan dibutuhkan tenaga lebih besar, serta keterampilan dan teknik yang lebih tinggi. Pemain pemula sebaiknya menggunakan raket yang agak berat. Ukuran grip (pegangan) raket squash umumnya sama dan bisa diganti, disesuaikan dengan ukuran telapak tangan. Media lapangan squash umumnya berbahan kayu, sehingga sepatu squash tidak boleh meninggalkan bekas apapun di lantai (non-marking). Karena itulah sepatu squash memiliki sol yang terbuat dari karet dan tidak berwarna. Teknik permainan yang stop-go (bergerak dan berhenti mendadak untuk mengejar bola), mirip tenis dan bulutangkis, membutuhkan desain sol berbentuk herringbone (seperti huruf w terbalik). Perlengkapan yang juga penting adalah goggle (pelindung mata). Di luar negeri main pemula maupun profesional diwajibkan memakai goggle.

Istilah pukulan yang digunakan dalam squash mirip tenis dan bulutangkis misalnya forehand, backhand, lob, overarm, servis, dan volley. Secara garis besar jalannya permainannya squash adalah: pemain melakukan servis dengan melempar bola ke udara, lalu dipukul hingga menyentuh daerah di atas garis servis di tembok depan, tanpa boleh mengenai lantai atau tubuh lawan. Jika tidak dapat dikembalikan oleh lawan, maka ia mendapatkan angka. Servis dapat diulang (let) antara lain jika pemain lawan tidak siap, bola rusak, atau posisi lawan tidak memungkinkan untuk membalas tanpa melukai pemain lain. Sistem penilaian yang digunakan dalam pertandingan squash adalah best of five. Pemain yang lebih dulu memenangkan 3 dari 5 set permainan adalah pemenangnya. Permainan berakhir saat salah seorang pemain mendapat 9 poin.

Menurut Bambang, seorang pemula diharapkan sudah bisa bertanding setelah belajar selama 6 bulan. Asyiknya, jika Anda bertujuan untuk fun atau untuk menjaga kebugaran saja, squash bisa Anda lakukan seorang diri.

Squash merupakan olahraga yang kompleks karena seorang pemain dituntut untuk memiliki kekuatan, kecepatan, dan strategi sekaligus. Berikut berbagai manfaat bermain squash:
1. Menguatkan otot-otot lengan Seorang pemain squash haruslah memukul bola sekeras dan sekuat mungkin, agar mampu mematikan permainan lawan terlebih dengan jangka waktu yang cukup lama dalam setiap setnya, sehingga membutuhkan otot lengan yang terlatih untuk bekerja keras.

2. Meningkatkan kesehatan jantung Kita akan dipaksa untuk melakukan gerakan yang menguras energi ketika sedang bermain squash. Hal ini berdampak pada membukanya saluran peredaran darah, terutama yang menuju ke arah jantung.

3. Melatih kejelian mata Pada saat bola dipukul untuk dipantulkan dari dinding, bola akan meluncur dengan cepat sehingga diperlukan kemampuan mata dalam melihat arah bola akan datang.

4. Mengurangi berat badan

Olahraga ini mampu membakar kalori dalam tubuh seseorang hingga mencapai 270 kalori setelah bermain selama 30 menit. 5 Sarana Pengendalian Emosi Dari sisi psikologi atau mental, ketika dalam keadaan emosi disarankan agar kita bermain squash dan melampiaskan emosi di lapangan squash. Wah olahraga seru nih yang bisa kita coba di #GeloraIndonesia

Sumber: http://www.brilio.net dan http://gabriel18032011.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s