Katon Adjie Berbicara Tentang Dunk, Akademinya, Dan Basket Indonesia.

Foto: Gelora Indonesia

Kalau kamu berasal dari Surabaya atau sekitarnya dan mengikuti dunia basket, maka nama Katon pasti sudah tidak asing. Katon telah menghabiskan 7 tahun di Surabaya untuk bermain basket. Di Surabaya sendiri ia telah meraih juara Liga Mahasiswa (LIMA) 2014 besama Universitas Surabaya, Indonesia Basketball League (IBL) 2017 besama CLS Knights Surabaya, dan Asean Basketball League (ABL) 2019 juga bersama CLS Knights Surabaya. Tahun 2019 kemarin, Katon akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan bergabung dengan Pelita Jaya Basketball Club.

“Sebentar lagi kelar, lagi massage gue”, begitu balasan Katon ketika saya infokan ketika saya sudah berada di kafe dekat mess dari tim Pelita Jaya. Selain karena kepindahannya ke Jakarta dan aksi dunk-nya di Piala Presiden 2019, beberapa saat lalu Katon juga telah membuka kelas akademinya yang diberi nama, “Katon Basketball Academy”. Pada kesempatan kali ini Katon membahas semuanya bersama saya hingga rencana kedepannya untuk membuat podcast.

Apa kabar Ton?

Baik, Alhamdulillah.

To the point ya, bagaimana rasanya ngedunk di level profesional?

Pemain Indonesia kan jarang yang bisa ngedunk. Kalau masih latihan oke lah, cuma kalau lagi di pertandingan, dapet kesempatannya kan sedikit. Saya memang berusaha dari dulu untuk ngedunk, tujuannya selain untuk pencapaian saya sendiri, tentu untuk tim kan juga bisa menambah fans, dan hype pertandingan. Namun kesempatannya baru ada setelah saya main lima tahun di level profesional, ya baru kemarin itu. Itu pun kemarin saya ragu-ragu awalnya setelah melakukan steal itu, waktu step saya sempat berpikir, “Mau lay-up apa ngedunk nih?”. Serius. Saya spontan saja, “Ah gue coba aja lah ini”, eh ga taunya dapet.


Namun kesempatannya baru ada setelah saya main 5 tahun di level professional, baru kemarin itu.


Anda sudah menjalani operasi ACL (anterior cruciate ligament), tapi kemarin kuat dan tidak takut untuk melakukan dunk itu. Apakah memang ada latihan khusus yang Anda lakukan?

Saya memang punya riwayat cidera ACL kan dilutut, bahkan sampai operasi. Hal itu membuat saya harus me-maintain latihan kaki saya setiap hari kalau masih mau bermain di level professional. Semisal (amit-amit) saya kena lagi, pasti akan butuh waktu lama lagi untuk membalikan ke performa awal, perlu adaptasi lagi. Untuk latihan kaki, latihan saya tetap seperti biasa tapi memang kemarin saya menambah set dan repetisinya. Seperti lompat plyometric atau box jump, itu saya naikkan jumlah set dan repetisinya agar di pertandingan badan terasa jadi lebih enteng. Memang semua berawal dari latihan sih ya. Untuk di latihan atau pemanasan sebelum pertandingan yang lay-up gitu, saya tidak langsung ngedunk, saya tetap lay-up tapi mencoba lompat setinggi mungkin. Begitu in-game, badan saya sudah siap, sudah click, jadi saya tinggal eksekusi saja untuk dunk-nya.

Di Piala Presiden 2019 kemarin Anda kembali melawan klub-klub peserta Indonesia Basketball League (IBL) setelah 2 tahun absen. Bagaimana Anda melihat perkembangan tim-tim peserta IBL saat ini? Ada perubahan?

Ini bicara serius ya, kalau dulu (tim besar) mungkin cuma Satria Muda, Pelita Jaya, Aspac/Stapac, Prawira Bandung dan CLS Surabaya terakhir, sedangkan sekarang tim-tim papan bawah dan tengah pun semua sudah step-up permainannya. Saya tidak tahu ya, mungkin ini karena faktor liganya juga yang sudah konsisten dan dari pesertanya yang itu-itu saja. Jadi setiap tim sudah mempelajari bagaimana cara keluar dari defense tim A, bagaimana cara menaham tim B, sudah belajar. Belum lagi dari segi pelatihnya yang juga step-up. Saya dari ABL (Asean Basketball League), kalau orang bilang levelnya diatas kan ya, cuma ketika saya balik main disini dan melihat perkembangannya, saya rasa klub-klub ini juga sudah bisa compete di ABL, apalagi dibantu dengan pemain asing.

Sekarang ini IBL udah mau mulai bergulir (10 Januari 2020), jadi lagi banyak scrimmage game antar klub IBL. Saya liatnya, dengan adanya bantuan dari pemain asing, saya melihatnya semua klub IBL sekarang tuh semua rata. Sudah tidak ada lagi istilah tim papan bawah, papan tengah, dan papan atas. Semua rata. Jadi begitu kita lengah sedikit saja di pertandingan, bisa kalah.

Sudah tidak ada lagi istilah tim papan bawah, papan tengah, dan papan atas. Semua rata.

Menurut saya, pressure-nya saat ini ada di tim-tim besar. Mungkin bagi orang yang awam dari dunia basket kalau tim-tim besar ini kalah, performa mereka dianggap menurun, “Waduh gimana nih Pelita Jaya kok kalah.” Padahal kalau mereka tau sebenarnya semua tim besar juga sudah step-up, cuma tim-tim ini lebih step-up lagi mengejar kita. Bukan permainan tim besarnya yang menurun.

Kalau untuk peserta barunya, yakni Louvre Surabaya, ada tanggapan?

Untuk Louvre ya.. kemarin waktu di Piala Presiden dia menang lawan Satria Muda kan. Jadi walaupun tim baru bukan berarti tim jelek juga. Dari pemain-pemainnya juga banyak yang berpengalaman ada Whenda (Wijaya), Daniel (Wenas), pelatihnya juga coach Bedu yang kemarin berhasil membawa Hang Tuah Sumsel sampai ke babak Semifinal. Apalagi nanti ditambah pemain asingnya, Savon Goodman, yang sudah pernah juara IBL 2017 sama Stapac, sama Martavious Irving yang pernah juara juga.

Jadi IBL tahun ini bakal seru banget menurut saya karena semua tim kemampuannya bisa dibilang sudah rata, tinggal eksekusi di lapangannya yang menentukan.

Selain ada peserta baru di IBL, musim ini juga ada peraturan baru yang memperbolehkan setiap tim memiliki 3 pemain import. Bagaimana pandangan Anda terhadap pertaruan baru ini?

Pandangan saya begini, dulu waktu cuma ada 2 pemain import, pertandingan sudah berjalan dengan ketat. Apalagi dengan penambahan 1 lagi pemain import sekarang. Jadi disaat 2 pemain ini capek, masih ada pengganti 1 pemain, amunisi baru lagi, sudah pasti permainan akan berlangsung ketat sepanjang pertandingan hingga akhir babak.

Dari highlight beberapa scrimmage yang saya lihat di youtube, gamenya jadi ketat semua. Contohnya Satria Mudah melawan NSH Jakarta kemarin, ketat sampai quarter 4 pertandingannya. Jadi ya pasti bakal seru lah IBL musim ini.

Untuk 3 pemain impor di Pelita Jaya sendiri, apakah ada kesulitan beradaptasi dengan mereka?

Dari 3 pemain itu, kan cuma satu pemain yang baru pertama kali main di Indonesia ya. Dua pemain lainnya; Kevin Bridgewaters dan Dior Lowhorn, sudah pernah bermain di Indonesia, jadi sudah beradapatasi lah. Kita tahu kemampuan mereka, musuh juga tahu kemampuan mereka. Kalau yang satu si Stephen (Battle) ini memang jago sih.

Sebenarnya kita tuh memang susah bekerjasama dengan pemain asing, pemain impor, karena budaya kita sama budaya mereka pertama sudah berbeda. Dia (pemain asing) lebih pede, kita pede sedikit malah dibilangnya sombong. Ada juga yang attitude-nya jelek, mereka suka berpikiran, “Lo tuh kalau ga ada gue, ga bakal menang.” Kita harus nurut sama kemauan dia, maunya kita service. Gue udah pernah dapet yang kayak gitu. Gue pernah dapet yang baik-baik kayak di CLS Knights kemarin yang kita juara ABL bareng, mereka mau sharing, mau kerjasama, tidak ada gap. Kalau attitude-nya baik gitu, kita kerjanya juga lebih mudah, mereka mau kerjasama sama kita, dan itu yang bikin tim jadi lebih baik karena gue yakin mereka juga ga bisa apa-apa tanpa pemain lokal.

Setuju. Ngomong-ngomong kemarin Anda membuka kelas “Katon Basketball Academy” di Gelora Indonesia untuk Katon Basketball Academy. Apa cita-cita Anda dengan membuka kelas ini?

Awalnya itu kenapa saya membuat akademi atau ‘sekolah basket’ ini adalah hasil dari banyak sharing saya dengan Wong Wei Long, salah satu rekan setim saya di CLS Knights. Dia menjelaskan ke saya bagaimana kisah dia membentuk dan membangun sekolah basket miliknya, Singapore Basketball Academy, dari nol hingga sebesar sekarang ini. Bagaimana sekolah basket miliknya tidak fokus pada uang, tujuannya lebih kepada ingin sharing ke generasi muda yang ingin maju di bidang basket. Mendengar cerita Wei Long, saya sebenarnya sudah sudah tertarik (membuka) ketika masih di Surabaya. Namun ada dilemanya, di satu sisi saya pikir, saya mungkin tidak akan selamanya di Surabaya. Di sisi lain kalau saya membuka di Jakarta, siapa saya ini. Saya memang orang Jakarta, cuma orang-orang banyak yang tidak tahu karena saya lama di Surabaya, bahkan saya memulai karir pro di Surabaya kan.

Saya menceritakan dilema saya ini ke Wei Long juga, dan dia bilang waktu itu; “Tidak apa-apa buka saja, saya juga memulai sekolah saya dari 0 dan butuh waktu 5 tahun untuk mencapai titik ini. Jadi lo percaya saja dengan prosesnya, tujuan lo apa, yaudah lo lakuin aja.” Dan saya sependapat dengan dia. Ya semua orang butuh lah uang, butuh materi untuk hidup, cuma tujuan saya lebih pengen sharing dengan pemain-pemain muda. Nantinya dengan ketika setelah mengikuti kelasnya, melihat cara kerjanya, melihat materi yang diberikan, kalau mereka suka tentu uang akan datang dengan sendirinya.

Akhirnya kemarin saya mencoba membuka. Yang pertama lumayan tuh, ramai, tapi begitu pas kelas kedua yang datang hanya 3 orang. Ya ini bagian dari prosesnya kan? Mungkin waktunya kurang tepat juga sih karena itu pas masa ujian anak sekolah.

Tujuan saya ingin sharing bagaimana caranya melangkah ke pemain professional, bagaimana standarnya. Ingin memberi tahu ke mereka kalau standar pemain professional tuh segini loh, kalau kamu bisa ngelewatin ini, baru nanti mungkin ada pelatih yang melirik mereka. Untuk fundamental tentu perlu juga tapi saya tidak fokus kesana.

Itu juga salah satu alasannya Anda memilih minimal usia pesertanya 16 tahun keatas ya?

Programnya saya fokuskan untuk mereka yang ingin bermain di pro, menurut saya yang paling memungkinkan ya mereka-mereka ini, anak-anak SMA keatas.  Kalau anak SMP kan masih jauh lah pemikirannya kesana dan juga jam terbangnya. Apalagi anak SMA atau kuliah pasti sudah banyak yang dilirik oleh klub-klub. Nah itu dia yang mau saya bantu arahkan. Lagipula saya takutnya kalau terlalu kecil akan susah menangkap. Kalau anak SMA dan kuliah lebih mudah mengerti materinya dan ga bakal baper (bawa perasaan) latihannya. Untuk sekarang ini saya pengen melatih yang mau ke pro, jadi saya tidak pusing soal fundamental. Pasti setidaknya mereka sudah punya bekal.

Kedepannya baru nanti akan ada kelas khusus fundamentalnya, tapi bukan saya yang ngelatih, ada teman-teman pelatih saya yang akan memegang. Begitu mereka sudah cukup fundamentalnya, baru boleh naik ke kelas berikutnya, latihan sama saya. Kira-kira begitu rencana jangka panjangnya.


Saya ingin memberi tahu ke mereka kalau standar pemain professional tuh segini loh, kalau kamu bisa ngelewatin ini, baru nanti mungkin ada pelatih yang melirik mereka.


Sepertinya dengan pendekatan akademi yang seperti itu, program ini bisa dibawa keliling ke kampus-kampus atau sekolah. Apakah Anda memang tertarik untuk membawanya ke arah sana?

Saya sudah ngomong sih ke beberapa pelatih, salah satunya pelatih dari salah satu universitas di Bogor, saya bilang “eh gue mau dong ngelatih di kampus lo” dan dia sudah bilang boleh, cuma ya kemarin masih terkendala di jadwal. Untuk mengambil alih menjadi pelatih tim kampus mungkin belum ya, saya mau fokus dulu untuk mengembangkan permainan secara individu dan sebagai timnya. Saya mau memberikan drill-drill bagaimana harus mereka harus bekerjasama. Ke kampus oke sih haha cuma ya itu, jadwalnya susah.

Di Jakarta saat ini ada juga beberapa kelas yang saya ketahui untuk latihan semacam ini. Menurut Anda, apa yang membuat Katon Basketball Academy berbeda dengan kelas yang lainnya?

Saya pernah juga kok latihan dengan kelas latihan serupa, tapi ya itu, materi latihannya banyak tentang fundamental. Belajar dribble, passing, bukan game situation. Kalau saya akan banyak game situation, simulasi-simulasi dari pertandingan. Tidak hanya latihan dribble melewati cone full 2 jam misalnya. Intensitas latihannya juga sangat berbeda. Saya menerapkan sistem time dan punishment. Dengan waktu sekian, mereka harus bisa menyelesaikan target, kalau gagal ada hukumannya. Jadi begitu kita coba lagi, konsentrasinya akan semakin meningkat, makin serius latihannya. Punishment-nya juga bukan yang berat gitu kok, cuma harus tetap ada.

Ini yang saya pelajari dulu waktu mau naik ke pro.

Kenapa saya ingin intensitasnya tinggi? Karena dari latihan begini akan menunjukkan lo ketika di game. Kalau misalnya lo di latihan ngelakuinnya sesuka hati, ga perfect, nanti di game juga akan begitu, sesuka hati aja mainnya. Jadi ga bisa lo latihan ga serius terus tiba-tiba ‘keluar’ (serius) di game. Sekarang gini deh, lay-up misalnya, lo latihan lay-up kosong aja ga masuk, gimana nanti di game ada yang jaga?. Makanya di latihan lo lay-up se-perfect mungkin, 100%, biar nanti di game gampang. Gue ngerasain ini dulu di junior, latihan lay-up harus masuk, target shooting harus masuk, waktu gue di Liga Mahasiswa 2014 pas juara bareng Ubaya (Universitas Surabaya), ya itu juaranya karena latihan. Dengan latihan 100%, nanti akan membuat lo mudah di game.

Musim reguler IBL 2020 akan bergulir beberapa hari lagi. Kapan rencananya akan ada kelas Katon Basketball Academy lagi? Apakah jadwalnya memungkinkan?

Itu sih yang saya lagi pikirkan, karena weekend sudah pasti tidak mungkin lagi. Paling memungkinkan kelasnya ya weekdays, masalahnya di weekdays para peserta sudah punya jadwal latihan entah dengan sekolah, kampus, atau klub. Nah ini yang tadi saya bilang tadi, saya ingin melakukan pendekatan dengan pelatihnya, “Boleh ga sih dia (peserta) ikut latihan sama saya hari ini?”. Toh dia tetap latihan juga kan, cuma ga sama timnya aja. Bagus juga buat latihan tambahan dia sebenarnya, karena materinya nanti bisa dibawa balik ke timnya.

Balik lagi kita ke IBL, untuk musim ini Anda sudah siap ngedunk lagi?

Nah ini dampaknya, setelah kemarin ngedunk di Piala Presiden, sekarang saya jadi lebih percaya diri. Sekarang saya sudah tahu, sudah pernah ngelewatin, kalau saya mau ngedunk lagi, latihannya harus seperti apa, “Oh ternyata kalau latihannya begini, saya bisa ngedunk”. Saya sudah tau formulanya.

Jadi balik lagi ke latihan kan intinya. Misalnya saya tahun ini juara, berarti tahun depan formula latihannya jangan diganti. Tinggal lo adjust di game aja. Ini berlaku untuk semuanya ya, dari kebiasaan lo, makan, bangun tidur, cara minum, jangan diganti. Formula itu ga cuma lo ulang untuk urusan di dalam lapangan, tapi di luar lapangan juga. Bahkan saya terapkan sampai bagaimana cara menyikapi rekan di dalam lapangan, di luar lapangan, karena semua itu akan mempengaruhi ke tim kita. Jadi basket sebenernya bukan cuma masalah di latihan atau di pertandingan, ini soal cara lo jadi orang, cara lo hidup, hidup yang berkarakter, hidup disiplin. Jangan cepat puas juga sama pencapaian lo yang sekarang, kalau yang model begitu cepat mati sih karirnya.


Jadi basket sebenernya bukan cuma masalah di latihan atau di pertandingan, ini soal cara lo jadi orang, cara lo hidup, hidup yang berkarakter, hidup disiplin.


Bahas sedikit yuk tentang Tim Nasional Basket Putra Indonesia. Apakah Anda cukup puas dengan performa mereka kemarin di SEA Games 2019?

Kalau saya, (kita) jangan berpikiran negatif tentang kerja kerasnya mereka. Orang-orang gatau kerja keras mereka di dalam, latihan mereka seperti apa. Kalian paling cuma tahu hasilnya doang. Kalau (kalah) dibantai ya gausah dijelek-jelekin karena kalian ga tau perjuangannya mereka seperti apa. Jadi menurut saya ya kalian dukung aja, kalau emang kalian suka Indonesia, cinta Indonesia, cinta basket. Jangan dia lagi terpuruk makin kalian terpurukin.

Performa mereka kemarin bagus kok menurut saya, ga ada yang harus dijelek-jelekin juga. Saya tau persis mereka seperti apa, saya juga sempat lihat mereka latihan. Buktinya kemarin lawan Filipin sempat menahan sampai quarter ketiga, kita tidak ada pemain asing lagi, pemain lokal doang. Jadi semuanya berjalan baik-baik aja lah.

Kemarin saya juga sempat ngepost di story Instagram sebelum melawan Filipin itu, kita tahu kan Filipin yang turun para pemain Gilas. Saya minta duluan untuk dukung saja kalaupun kalah sebelum netizen komentar yang tidak baik. Orang yang tahu kemampuan Filipin harusnya mengerti bagaimana kekuatan Filipin. Memang berat tapi apa salahnya mencoba?

Kalau untuk keterlibatan tim nasional Indonesia di IBL. Apakah menurut Anda itu langkah yang tepat?

Kalau saya tidak setuju, soalnya buat apa?. Kalau memang tujuannya untuk mencari game untuk latih tanding, mending jangan di Indonesia. Saya prefer ke ABL, seperti Indonesia Warriors dulu. Saat ini dampak dari ikutnya timnas di IBL cukup banyak, tidak hanya ke klub yang pemainnya dipanggil, untuk pemainnya juga sudah kurang pas saja masih main di Indonesia karena targetnya kan di FIBA. Sayang aja gitu karena sampai harus mengorbankan Stapac yang kehabisan pemain.

Menurut saya soalnya kalau liga mau lebih maju, persaingannya ya harus dibikin lebih ketat. Kalau ada Stapac di musim ini kebayang ga sih serunya? Apalagi dia juara bertahan. Buat saya soalnya juara bertahan harus dikalahkan, gengsinya beda. Sekarang tidak ada juara bertahan berarti mencari juara baru lagi. Rasanya beda. Ya rugi lah Stapac keluar tuh.

Harapan Anda sendiri untuk IBL kedepannya?

Yang saya harapkan adalah game pertandingan lebih banyak. Saya yakin itu harapan setiap pemain. Kebayang kan latihan enam bulan, pertandingan cuma empat bulan. Itupun kalau masuk playoffs sampai habis ke final, kalau tidak ya paling 3 bulan. Kalau bisa jadwal pertandingannya diperbanyak. Salah satu yang bisa membuat kita lebih maju tentu dari pertandingannya. Pertandingan lebih banyak, individu juga semakin maju.

Kalau pertandingan lebih banyak juga seperti NBA gitu, penonton juga semakin bagus. Ambil contoh dari sepak bola kenapa penontonnya bisa sebanyak itu, salah satunya mungkin karena jumlah game yang lebih banyak. Soalnya saya lihat saat ini penonton basket di Indonesia sudah mulai fanatik. Sudah di tahapan bela-belain mau nonton basket, seperti misalnya dari Jogja berangkat ke Solo, kemarin juga ada yang dari Malang ke Surabaya nonton CLS Knights. Udah bagus lah, tinggal dikelola dengan baik pokoknya. Jadi itu sih, balik lagi pertandingannya diperbanyak.

Terakhir. Ada proyek atau target pesonal ke depannya di basket maupun luar lapangan?

Saya lagi mau coba ke podcast, karena bikin podcast kita cuma ngobrol doang dan saya juga senang ngobrol orangnya. Ngobrol aja, ngobrolin tentang kehidupan saya di basket, kehidupan pemain professional seperti apa, atau ngasih tips-tips kalau misalnya cidera. Mungkin buat orang awam yang cidera maunya langsung diurut, itu standar banget. Nah kita tuh punya cara yang lebih modern dan benar secara medis untuk penangannya. Bisa juga ngomongin ritual khusus sebelum tanding, soalnya saya juga punya ritual khusus setelah cidera (ACL). Saya sebelum tanding pasti ngobrol dengan dengkul saya, “Baik-baik ya, jangan cidera lagi”. Ada juga teman saya yang telepon ibunya. Kadang dengerin lagu juga buat naikin hype, Avenged Sevenfold, Aerosmith, sampai reggae gitu juga saya dengerin. Kalau buat lagi nervous pakai lagu slow, misalnya Celine Dion, pokoknya lagu-lagu yang ibu saya denger lah. Kalau kehidupan di luar, paling ngomongin cewe sama anak basket yang lain hahaha

Saya rencananya sama orang media dari Pelita Jaya. Nanti dia juga yang ngedit dan dia punya podcast juga, jadi sudah paham. Rencananya sambil series, seminggu sekali nanti akan ada podcast yang rilis.

Jadi ditunggu aja ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s